Pekanbaru,,tahun 2009
Sekitar pertengahan tahun 2009, sebelum keberangkatan
haji orangtua ku sempat mengalami sakit parah sekitar 4 bulan lamanya. Berawal
dari faktor pola makan yang kurang higienis yang tidak seimbang dengan pola
gizi yang biasanya ibuku selalu berikan, hal ini dikarenakan ayahku bekerja di
daerah Tpi, beliau pindah tugas dan menjabat sebagai pejabat daerah. Namun ibu
tidak ikut serta mendampingi beliau
bertugas dikarenakan aku masih memilki 2 (dua) orang adik yang sudah menikah
dan yang masih duduk di Sekolah Lanjutan Menengah atas (SLTA). Ibu beserta
adik-adikku berada di kota Pekanbaru, sementara ayah dan diriku berada di Tpi.
Aku bekerja di salah satu Instansi Lembaga Pemerintahan di daerah Provinsi
Kepulauan Riau, sementara ayah di daerah Kota Tpi. Kesehari-harianku bisa
menjaga dan mengurus ayah hanya waktu beliau pergi dan pulang kerja. Namun
untuk pagi dan siang menjelang sore waktu kami isi dengan pekerjaan rutin dan
terkadang waktu makan pun kurang teratur dan kadang makanan untuk makan siang
pun siap saji tanpa mengetahui bahan pengawet apa yang di gunakan.
Sekitar bulan Juli tahun 2009 ayahku telah
memasuki masa purna bakti atau pensiun. Ayah akhirnya kembali berkumpul bersama
ibu dan ke dua adikku serta menantu dan 1 (satu) orang anak. 2 (dua) minggu
kemudian ayah mertua adikku yang sebelumnya berada di Semarang berkunjung ke Pekanbaru. Isteri
adikku ini bernama Vina. Ayah Vina ini ternyata di Semarang di kenal sebagai
ahli mengobati orang seperti apa yah
namanya, kayak paranormal mungkin yah..
Pada suatu hari ayah mengeluh nafasnya sesak,
keringat dingin keluar, muntah, demam panas,dan perutnya makin hari semakin
membuncit. wajah ayah semakin lama semakin pucat. Sekitar beberapa bulan lagi
ayah dan ibu rencananya akan menunaikan ibadah haji. Ibu dan keluarga
mengusulkan untuk berobat ke dokter dan rumah sakit., namun ngga ada hasilnya, disaat ayah sedang sakit, ayah vina
menawarkan bantuan untuk mengobati ayah dengan caranya. Memijit dengan
menggunakan bacaan-bacaan ayat, kmudian bekam, dan mengolah buah mengkudu, labu
air dan nenas menjadi obat, dan lain sebagainya. Ketika ayah Vina mengobati
ayahku, ayah berpesan sebelum naik haji dulunya ketika masih muda, ada satu hal yang waktu itu beliau sempat
menelan serbuk seperti kristal pemberian dari temannya, yang katanya berguna
untuk menangkal sebagai pelindung dirinya, serbuk tersebut seperti sudah
mendarahdaging, teman yg memberikan serbuk tersebut telah meninggal, dan ayah
minta dikeluarkan sebelum menunaikan ibadah haji. Ayah Vina berhasil
mengeluarkan dan membersihkan diri ayah, ngga tahu juga dengan cara apa beliau
mengeluarkannya, namun sakit ayah ngga juga sembuh, bahkan waktu itu semakin
parah, semakin pucat., namun ayah tetap mengerjakan sholat lima waktu dan
sering sholat tahajjud. Disaat ayah
sakit suatu hari ayah kedatangan tiga orang tamu yang tak dikenal. Ketiga tamu
tersebut menawarkan bantuan dengan mengobati ayah, tamu tersebut berniat ingin
mengajak ayah mengikuti segala ajaran dan perintah yang mereka anut dan
kerjakan, ayah menanyakan ajarannya apa, dan bagaimana mengerjakannya.
namun
anehnya, ketiga tamu tersebut mengaku beragama islam, namun tidak melaksanakan
sholat lima waktu, tidak mengenal dua kalimah syahadat, tidak melaksanakan
ibadah puasa dan memiliki satu orang nabi setelah nabi Muhammad SAW, dan setiap
malam bulan purnama punya ritual khusus yang harus di laksanakan di depan mayat
orang yang baru meninggal, kemudian meminta uang sebesar 5 juta rupiah untuk
iuran kegiatan mereka.,spontan ajah ayah terkejut dengan apa yang mereka
katakan, ayah marah bahkan bilang bahwa ajaran islam yang sesungguhnya tidak
begitu, dengan beraninya dan lantang ayah mengatakan aliran yang kalian anut
sesat !!!! itu bukan islam !!!! biar
bagaimanapun saya tidak akan menerima ajakan kalian !!! maaf...saya saat ini
sedang sakit, sebaiknya kalian keluar dan segeralah pulang,, tolong keluar dari
rumah ini !!! mereka akhirnya terdiam, kemudian berkata, Sebelum pulang,
sebaiknya bapak bisa pikirkan dulu mengenai ajakan kami ini. Baiklah..kami akan
pulang dulu.
Pada malam
harinya, sekitar pukul 2 malam, ayah mengeluh sakit, nafasnya sesak, muntah,
perut membuncit, keringat dingin mengucur deras, dan muntahnya mengeluarkan
darah. Waktu itu walau dengan susahnya bernafas beliau masih sempat sholat
tahajjud. Dan ayah Vina datang mengobati ayah, kemudian ayah tertidur,, di
dalam tidurnya ayah bermimpi rumah kami dari atas di teropong sama 3 orang, dan
ke tiga orang tersebut menaburkan sesuatu dari atas rumah. Ayah terbangun dan
mengatakan mimpi tersebut, semakin hari kondisi ayah semakin
memprihatinkan dan tidak lama lagi
sekitar 1 bulan lagi ayah akan akan menunaikan ibadah hajinya. Ketika pada
malam jumat kliwon tiba-tiba ketika tidur ayah berteriak-teriak dan seperti
sedang berbicara sama makhluk yang tidak berwujud ada di depannya. Ayah bilang,
tolong jangan ganggu saya, pergilah kalian, saya tidak mau minum darah, pergi
sana pergi !!! kemudian ayah ngomong sendiri, adekku buru-buru meanggil ayah
vina,,kemudian ayah vina datang,, dan melihat,, ayah memegang lehernya, seperti
ingin melepaskan tangan orang yang hendak mencekik lehernya. Allahu Akbar
!!! Ya Allah lindungi saya !!!
Astaghfirullahaldzimm,, kami yang berada disitu berusaha menolong ayah, ayah
Vina kemudian bersiap-siap menyerang balik makhluk itu, menurut yang dia lihat
rumah ini diserang dari tiga penjuru, dari sudut kiri, kanan , dan depan.
Tolong kalian semua waspada. Yang sudut kanan akan menuju ke kamar Icha (adik
perempuanku) yang saat itu sedang tidur, trus yang disebelah kiri akan menuju
ke ibuku, dan yang di depan sasarannya ke ayahku, yang tadi sempat berhasil
melepaskan cekikan, kemudian bersiap-siapa datang menyerang lagi. Tapi mereka
ngga mengenalku yang waktu itu baru saja tiba di Pekanbaru. ayah vina di bantu
adik laki-lakiku kemudian menyerang,
yang aku lihat mereka bertarung, saling tendang, tenaga dalam dan menyerang.
Aku langsung membawa ayah pergi ke kamar, dan mengeluarkan Alquran aku membaca
alquran di dekat ayah, sambil memijit dan meminumkan obat yg di berikan ayah
vina. Kemudian Vina gantian menjaga ayahku, terdengar suara pintu kamar adikku
seperti bergerak dan terbuka, aku langsung keluar sambil melafazkan ayat kursi
aku mendengar suara kaki diseret namun tidak berwujud. Ayah wina langsung
membaca mantera dan mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, dan melemparkan
kearah makhluk tersebut, kmudian sepertinya mkhluk itu terkena pukulan ayah
Vina, barang-barng pecah belah dan lemari ikut peca dan hancur, kemudian
mendengar suara teriakan panas dan panas. Aku merasakan sosok tersebut semakin
lama semakin mendekati aku dan adikku, aku membangunkan adikku, supaya cepat
tersadar, akhirnya, suara kaki di seret dan desahan nafas pun terdengar olehku,
namun tidak terdengar oleh adikku.semakin lama aku semakin sering melafazkan
ayat-ayat alquran. Adikku juga ikut melafazkannya.
Namun
sepertinya adkku terlebih dahulu yang menjadi sasaran, sekujur kaki adikku ngga
bisa digerakkan, aku langsung semakin kuat melafazkan ayat –ayat alquran, yah..benar
kata ayah vina, mereka tidak mengenalku, namun pikirku aku pasti bakalan ikut
terkena juga..Akhirnya ayah vina datang ikut menyerang mkhluk yang ada di
depanku, kemudian makhluk tersebut lari namun sempat mengeluarkan bau hangus
seperti terbakar. Makhluk yang ada di penjuru sebelah yang tadinya akan masuk
ingin mencelakakan ibu, ternyata ngga berani masuk dan Cuma mengawasi ajah.
Akhirnya makhluk-makhluk tersebut pergi. Ayahku tetap saja masih sakit, namun
dia tidak mau berobat di bawa kedokter, ketika hari H, aku dan sekeluarga
mengantar ayah dan ibuku ke bandara, ayah masih sakit namun dia bersikeras
ingin tetap menunaikan ibadah haji, sambil membawa dokter spesialis untuk
menemani ayah dan ibuku berangkat haji, waktu itu aku hanya pasrah, melihat
kondisi ayahku yang semnakin hari semakin lemah. Aku hanya bisa menirimkan doa,
sambil sekali-skali menyakan ayah disana. Akhirnya ibadaj aji telah selesai di
kerjakan, orangtua ku akhirnya pulang dalam keadaan sehat, putih berseri dan
gemuk. Alhamdulillah...berarti Allah memberikan kita cobaan sebelum ayah dan ibu menunaikan ibadah haji.
(RYAN)
La tahzan, innallaha ma’ana.....
Jangan bersedih, karena Allah bersama
kita....
Ya Allah,,bantulah kami untuk terus
bersyukur...
Atas semua keadaan terus bersabar...
Dalam menjalani semua masalah serta
ikhlas....
Atas semua yang kau takdirkan....
Serta melapangkan dada...
Untuk terus menjadi prbadi yang kau
cintai....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar